• Kontak Kami
  • Hotline : 082111973742
  • SMS : 082111973742
  • BBM : 53B29027

Kontak Kami

( pcs) Checkout

Buka jam 08.00 s/d jam 21.00 , Sabtu, Minggu & Hari Besar Tetap Buka
Hati-Hati Terhadap Segala Bentuk Penipuan, Baik Melalui SMS atau Telpon Maupun Melalui Media Sosial Yang Mengatasnamakan NATURALTOKO, untuk Konfirmasi Silahkan Hubungi Call Center kami di 0821-1197-3742, Terima Kasih. Informasi Pendaftaran Member/Resell silahkan hubungi Call Center 0821-11973742, Terima Kasih
Beranda » Artikel Terbaru » Manfaat Beras Merah Untuk Diabetes Melitus

Manfaat Beras Merah Untuk Diabetes Melitus

Diposting pada 26 Maret 2018 oleh admin

Beras Merah | Beras merupakan makanan pokok pada hampir seluruh masyarakat di benua Asia. Indonesia merupakan negara agrikultur dengan wilayah agraris yang mendukung produksi pangan sangat luas termasuk produksi beras. Hanya saja produksi beras di Indonesia mayoritas beras putih, hal ini dikarenakan makanan pokok masyarakat Indonesia adalah beras putih.

Tujuan penulisan literatur review ini adalah untuk mengemukakan beberapa penelitian yang mengungkapkan hubungan antara konsumsi beras putih  dengan kejadian diabetes mellitus, serta potensi beras merah sebagai makanan protektif terhadap penyakit diabetes mellitus. Studi kohort konsumsi beras putih yang tinggi dikaitkan dengan penyakit diabetes mellitus. Kejadian diabetes di Indonesia dalam kurung waktu 5 tahun (2007-2013) terjadi peningkatan sebesar dua kali lipat.

Salah satu faktor penyebabnya adalah pola makan yang kurang sehat. Se- hingga dengan mensubtitusi beras putih dengan beras merah sebagai makanan pokok kemungkinan akan memberikan efek perlindungan terhadap diabetes mellitus. Beras merah memiliki lapisan membran terluar  dengan endosperm berpati, dan tetap mempertahankan kandungan serat, protein, asam lemak esensial dan berbagai vitamin, zat besi, magnesium, dan polifenol sehingga hal ini kemungkinan beras merah memiliki efek protektif terhadap kejadian DM tipe 2.

Proses penggilingan beras merah menjadi beras putih akan menghancurkan 67% vitamin B3, 80% vitamin B1, 90% vitamin B6, sebagian besar kandungan mangan, separuh kandungan posfor, 60% zat besi, serta menghilangkan seluruh kandungan serat dan asam lemak esensial. Zat warna yang terdapat pada beras merah merupakan senyawa alami proantocyanin yang dapat mencegah tekanan darah tinggi, diabetes, menurunkan risiko penyakit kardiovaskular dan kanker.

Komponen phytokimia pada serealia utuh kemungkinan memiliki efek protektif terhadap diabetes yang dapat meliputi karotenoid, α dan β karoten, lutein, β kriptoxanthin, dan zeaxanthin. Beras merah memiliki indeks glikemik yang rendah sehingga dapat menurunkan risiko diabetes tipe 2.  Kesimpulan dari literatur review ini adalah adalah beras merah kemungkinan memiliki efek protektif terhadap kejadian diabetes mellitus

 

PENDAHULUAN

Beras merupakan makanan pokok pada hampir seluruh masyarakat di benua Asia. Beras menyumbang  lebih dari 22% dari asu- pan energi global. Asia adalah produsen beras utama, dimana jumlah produksi padi sekitar

92% dari total produksi dunia.1,2 Bagi bangsa- bangsa di Asia, beras merupakan pangan po- kok yang cukup dominan. Walaupun berva- riasi antar Negara, namun sumbangan beras terhadap pemenuhan kebutuhan kalori dalam diet sehari-hari masyarakat Asia masih relatif cukup tinggi. Sebagai contoh, Laos dan Myan- mar konsumsi beras per kapita per tahunnya hingga saat ini masing-masing mencapai seki- tar 179 kg dan 190 kg, sementara Indonesia masih  sekitar 142 kg.3

Indonesia merupakan negara agrikultur dengan wilayah agraris yang sangat luas. La- han agraris tersebut  mendukung ketersediaan pangan di Indonesia. Sebagian besar pangan yang diproduksi dari lahan yang ada di Indo- nesia adalah bahan makanan sumber karbohi- drat seperti jagung, beras, umbi-umbian. 56% produksi padi berasal dari Pulau Jawa,  22% dari Pulau Sumatra, 10% dari Sulawesi, 5% dari Kalimantan (5%). dan pulau-pulau lain- nya (7%).4

Pemenuhan kebutuhan pangan yang cu- kup merupakan salah satu hak bagi  manusia yang paling azasi dan juga salah satu faktor penentu bagi perwujudan  ketahanan nasional. Sehubungan dengan itu, kekurangan pangan yang terjadi                 secara meluas di suatu negara akan menyebabkan kerawanan ekonomi, so- sial, dan       politik yang dapat menggoyahkan stabilitas suatu negara. Bagi Indonesia, beras merupakan pangan pokok yang sangat domi- nan. Beras telah menjadi pangan pokok utama di berbagai daerah termasuk   daerah  yang sebelumnya mempunyai pola pangan pokok bukan beras, sehingga sebagian besar energi dan protein yang dikonsumsi oleh masyarakat berasal dari beras dan kurang terdiversifiksi.3

Hingga kini telah dilakukan sejumlah research untuk melihat keterkaitan antara pola konsumsi beras dengan kejadian penyakit tidak menular termasuk diabetes mellitus.

Studi meta analisis yang dilakukan oleh Hu et al. (2012)5  dari empat research prospe- ktif kohort selama 4-22 tahun terhadap 352.284 partisipan dengan insiden diabetes mellitus tipe

2 sebanyak 13.284 kasus, menemukan bahwa penduduk Asia (China dan Jepang) memiliki kebiasaan konsumsi beras putih lebih banyak dibandingkan  masyarakat  western  (rata-rata

3-4 prosi per hari dibandingkan 1-2 porsi per minggu) dengan RR 1,55 (95%CI; 1,20-2,10) perbandingan antara asupan beras putih terting- gi dan asupan kategori rendah pada penduduk Asia. Relative risk 1,12 (95% CI; 0,94-1,33) pada masyarakat western (p value = 0,038). Hasil meta analisis ini mengindikasikan bahwa konsumsi nasi putih setiap porsi per hari me- ningkatkan risiko diabetes tipe 2 dengan rela- tive risk 1,11 (95%CI: 1,08-1,14), dengan p value < 0,001).

Berdasarkan hasil Riskesdas (2013)6 menunjukkan kejadian diabetes mellitus tipe 2 berdasarkan diagnosa tenaga kesehatan dengan gejalah sebanyak 2,1%. Apabila dibandingkan dengan kejadian DM tipe 2 pada tahun 2007 hanya sebesar 1,1%. Prevalensi diabetes ter- tinggi terdapat di Sulawesi Tengah (3,7%), Su- lawesi Utara (3,6%), Sulawesi Selatan (3,4%) dan Nusa Tenggara Timur 3,3%.

Beras adalah sereal pokok bagi lebih dari setengah populasi dunia.7 Nasi putih diproduksi dengan menghilangkan sekam yang bertekstur kasar dan dedak pada lapisan membran terluar beras  selama  penggilingan.8  Jika kandungan zat gizi beras putih dibandingkan dengan be- ras merah, maka akan menunjukkan perbedaan jumlah zat gizi yang nyata. Zat gizi mikro dan phytochemical pada beras merah lebih tinggi dibandingkan beras putih, sehingga hal ini ke- mungkinan beras merah memiliki efek protek- tif terhadap kejadian DM tipe 2. Penyusuna tin- jauan pustaka ini bertujuan untuk merangkum sejumlah temua tentang beras merah terutama kaitannya dengan kejadian DM tipe 2.

 

Karakteristik Beras Merah

Sejarah kemunculan tanaman padi di dunia.  Padi  merupakan  tanaman  pertanian kuno berasal dari dua benua yaitu Asia dan

Afrika Barat tropis dan subtropis. Bukti se- jarah menunjukkan bahwa penanaman padi di Zhejiang (Cina) dimulai pada 3.000 tahun SM. Fosil butir padi dan gabah ditemukan di Hasti- napur Uttar Pradesh India sekitar 100-800 SM. Selain Cina dan India, beberapa wilayah asal padi adalah, Bangladesh Utara, Burma, Thai- land, Laos, Vietnam.9

Klasifikasi botani tanaman padi adalah sebagai berikut: divisi: Spermatophyta, sub di- visi: Angiospermae, kelas: Monotyledonae, ke-

kan dengan kemiskinan dan masa peperangan dan pada masa silam konsumsi beras beras ja- rang dilakukan kecuali oleh orang sakit,  dan golongan lanjut usia serta untuk mengatasi konstipasi. Proses  produksi secara tradisional pada masa sekarang menjadikan beras merah lebih mahal dibandingkan beras putih.12

 

Tabel 1. Perbandingan       Kandungangn       Zat      Gizi

Beras Merah dan Beras Putih2, 14

 

Parameter          Beras Merah          Beras Putih

 

luarga: Gramineae (Poaceae), genus: Oryza, spesies: Oryza spp. Terdapat 25 spesies Oryza yang dikenal adalah O.sativa dengan dua sub- spesies yaitu Indica (padi bulu) yang ditanam di Indonesia dan Sinica (padi cere).9 Berdasar- kan warna beras, di Indonesia  dikenal bebera- pa jenis beras seperti beras putih, beras hitam, beras ketan dan beras merah. Beras merah um- umnya dikonsumsi   tanpa melalui proses pe- nyosohan, tetapi hanya digiling menjadi beras pecah kulit,  kulit arinya masih melekat pada endosperm. Kulit ari beras merah ini kaya akan minyak  alami, lemak esensial dan serat.10

 

Kandungan Zat Gizi Makro dan Zat Gizi

Kalori Protein Karbohidrat Lemak

Serat

Thiamin (B1) Riboflavin(B2) Niacin (B3) Vitamin B6

Folat Vitamin E Magensium Posfor Potasium Selenium Zink

Besi

232

4,88 g

49,7 g

1,17 g

3,32 g

0,223 mg

0,039 mg

2,730 mg

0,294 mg

10 mcg

1,4 mg

72,2 mg

142 mg

137 mg

26 mg

1,05 mg

1,9 mg

232

4,10 g

49,6 g

0,205 g

0,74 g

0,176 mg

0,021 mg

2,050 mg

0,103 mg

4,1 mcg

0,462 mg

22,6 mg

57,4 mg

57,4 mg

19 mg

0,841 mg

0,5 mg

 

Mikro Beras Merah

Sembilan puluh persen dari hasil peng- gilingan gabah kering adalah pati, protein dan lipid yang merupakan konstituen utama. Pada beras merah, hanya lapisan sekam        yang di- hilangkan, masih menyisahkan dedak lapisan membran terluar   dengan endosperm berpati, dan tetap mempertahankan kandungan serat, protein, asam lemak esensial dan berbagai vi- tamin, zat besi, magnesium, dan polifenol (Itani et al, 2002 dalam Wang et al., 2013). Beras merah mengandung lebih banyak serat daripada beras putih.11

Proses pengolahan serealia berpengaruh terhadap kandungan zat gizi yang dikandung- nya. Proses pabrik beras merah menjadi beras putih akan menghancurkan 67% vitamin B3,

80% vitamin B1, 90% vitamin B6, sebagian besar kandungan mangan, separuh dari   kan- dungan posfor, 60% zat besi, menghilangkan seluruh kandungan serat dan asam lemak esen- sial.12,13 Di Negara Asia, beras merah dihubung-

Perbandingan   kandungan   serat   pada

beras merah dengan beras putih serta kan- dungan lemak   esensial. Dedak   pada   beras mengandung komponen penting yakni serat dan asam lemak esensial. Serat dapat mence- gah penyakit gantrointestinal tract dan pe- nyakit jantung yang merupakan penyakit yang banyak terjadi di Negara berkembang. The National Cancer Institute merekomendasikan

25  gram  serat  per  hari,  apabila  dibanding- kan  dengan beras putih maka secangkir beras merah mengandung 3,5 gram serat sedangkan beras putih hanya 1 gram. Kandungan minyak esensial pada beras merah dari sebuah pene- litian menemukan bahwa beras merah dapat menurunkan kolesterol serum yang merupakan faktor risiko utama kejadian penyakit cardio- vascular.15,16 Beras merah kaya serat terutama pada bagian lapisan bran, germ dan endo- sperm merupakan komponen yang tetap ter- dapat pada beras merah. Berbeda dengan beras putih pada saat pengolahan di pabrik sebagian besar bagian kulit ari / dedak akan terbuang.

Sedangkan pada beras merah bagian kulit ari /

dedak tetap dipertahankan keberadaanya.

Pada  bagian  endosperm      beras  merah kaya kandungan       protein dan mineral yakni sekitar 80%. Pada bagian germ mengandung vitamin E, mineral, asam lemak tidak jenuh dan senyawa fitokimia. Senyawa fitokimia pada beras merah merupakan senyawa yang dapat pula ditemukan pada sayur, buah, ka- cang – kacangan serta makanan dari tumbu- han. Kandungan antioksidan beras merah lebih tinggi dibandingkan beras putih.17

Nasi putih (WR) atau beras putih di- produksi dengan   menghilangkan kandungan serat yang tinggi yaitu lapisan dedak dari be- ras  kasar.  Beras  merah  (BR)  mengandung lebih banyak komponen zat gizi dan zat non gizi   seperti serat makanan, asam fitat. vita- min E dan vitamin B dan γ-aminobutyric acid (GABA).  Pada                   BR  karena  adanya  lapisan dedak luar menjadi sumber utama untuk ele- men gizi.1 Meskipun, BR lebih bergizi apabila dibandingkan WR, namun konsumsi beras merah masih kurang sebab teksturnya kenyal dan mengurangi daya cerna. Masalah ini dapat diatasi dengan                 GBR untuk perkecambahan parsial, dengan demikian, menghasilkan beras merah berkecambah.18

 

Kandungan Fitokimia Beras Merah

 

 

Hasil studi literatur yang dilakukan oleh

 

Babu et al. (2009)12 menemukan bahwa whole grain seperti beras merah mengandung zat gizi alami yang berperan penting untuk menunjang kesehatan manusia. Zat warna yang terdapat pada beras merah merupakan senyawa alami proantocyanin yang dapat mencegah tekanan darah tinggi, diabetes, menurunkan risiko pe- nyakit kardiovaskular dan kanker.19

Beberapa faktor yang mempengaruhi ketersediaan phytokimia  pada  serealia  utuh. Pada serealia utuh mengandung berbagai jenis phytokimia, hal ini bergantung pada varietas serealia, lokasi/tempat serealia dibudidayakan, serta proses pengolahan serealia hingga siap untuk dikonsumsi.20  Beras merah merupakan sumber senyawa antioksidan yang larut lemak seperti phytosterol (γ-orisanol), tokopherol, to- kotrienol meskipun kuantitas jumlah senyawa ini sangat ditentukan oleh varietas beras merah (Britz  et  al.,  2007  dalam  Belobrajdic  dan

2013).20  Sebagai contoh  konsentrasi senyawa tokol (tokopherol dan tokotrienol) antara 90-

220 nmol/gram dari tujuh jenis varietas beras merah. Beras merah kemungkinan juga meru- pakan sumber asam phenolik, sebagaimana se- buah laporan lembaga pertanian menyebutkan bahwa beras merah varietas Zizaniae palustris dan Zizaniae aquatica masing-masing               men- gandung asam phenolic 2.472 dan  4.072 mg equivalen asam ferulic FAE / kg. Kandungan asam phenolik lebih tinggi dibandingkan pada beras putih yakni hanya 1.460 mg FAE / kg.

Tabel 2

Kandungan total asam phenolik pada beras merah ini berdasarkan studi in vitro menunjuk- kan aktivitas antioksidan 30 kali lebih tinggi dibandingkan beras putih.21

Spesifikasi keberadaan senyawa phy- tokimia pada serealia utuh. Membran terluar serealia berupa lapisan aleuron yang menyeli- muti pericarp mengandung komponen phyto- kimia yang banyak seperti komponen phenolic, phytosterol, tocol, betain, folat dibandingkan bagian  germ  dan     endosperm.22   Komponen phenolic merupakan bagian dari kelompok phytokimia. Komponen ini meliputi derivat benzoid dan cinnamic acid berupa flavonoid, flavonol, antocyanidin, avenanthramide, lig- nan, dan alkylresorsinol.22,23  Komponen phy- tokimia pada serealia utuh kemungkinan me- miliki efek protektif terhadap diabetes yang dapat meliputi karotenoid, α dan β karoten, lu- tein, β kriptoxanthin, dan zeaxanthin.24  Tabel

2 menunjukkan kandungan phytokimia beras merah berdasarkan berat kering.

 

Manfaat Beras Merah

 

Beras merah lebih unggul daripada be- ras putih. Beras merah mengandung serat yang tinggi (berperan untuk mencegah penyakit gastrointestinal serta pada penderita diabetes), kandungan vitamin B dan mineral yang tinggi (mencegah beri-beri), kandungan lemak tinggi (sebagai sumber energi), kandungan asam py- tat tinggi (sebagai antioksidan, anti kanker, menurunkan serum kolesterol, mencegah pe- nyakit kardiovaskular), beras merah memiliki indeks glikemik yang rendah (rendah patih, tinggi karbohidrat kompleks yang dapat menu- runkan risiko diabetes tipe 2 (Garrow, 2000) dalam Babu et al.,2009).12

Studi yang dilakukan oleh Kim et al. (2008)41  menyatakan bahwa subjek penelitian dengan konsumsi beras merah dan beras hitam selama 6 minggu meningkatkan 15% aktivitas glutation peroksidase plasma. Namun peneli- tian lain oleh Bruce et al. (2000) 42 menemukan bahwa glutation peroksidase plasma menurun

35% pada intervensi selama 4 minggu dengan serealia utuh yang diperkaya dengan   phyto- kimia. Menurut Fardet (2010)22   peningkatan

konsentrasi glutation peroksidase dapat terjadi karena kandungan asam amino dengan miner- al sulfur yaitu metionin dan sistein. Metionin dan sitein yang tinggi pada beras merah dapat berperan sebagai prekursor pembentukan glu- tation. Meskipun kandungan asam amino ini relatif rendah pada gandum.43

Sebuah studi kohort di Inggris yang melibatkan 35.972 perempuan sebagai subjek penelitian menemukan bahwa konsumsi whole grain (misalnya beras merah) dan konsumsi buah-buahan memberikan efek proteksi ter- hadap kanker payudara pada perempuan pre- menopouse. Konsumsi serat (> 30 gr per hari) berisiko 53% lebih rendah untuk mengalami kanker payudara dibandingkan konsumsi se- rat (< 20 gr per hari).19  Inisitol hexaphosfat merupakan molekul alami yang terdapat pada makanan tinggi serat misalnya beras merah. Senyawa molekul ini berperan sebagai anti- kanker.44

Serealia mengandung zat gizi seperti serat, vitamin, magnesium, beberapa mineral) maupun zat non gizi (lignin, phytoestrogen, asam lemak esensial) yang bersifat protektif terhadap faktor risiko diabetes dan penyakit jantung.45 Serat tidak larut sebagai kandungan utama beras merah yang dapat menurunkan konsentrasi glukosa post parandial.46  Minyak beras merah menunjukkan dapat menurunkan konsentrasi kolesterol total.47 Peningkatan asu- pan trace element dan vitamin B yang banyak terdapat pada beras merah kemungkinan me- miliki efek proteksi terhadap kejadian diabetes dan gangguan metabolik.48 Lebih lanjut, beras merah dapat meningkatkan SCFA di usus be- sar.49  Hal ini kemungkinan mempunyai efek menguntungkan terhadap program penurunan berat badan, sensitifitas insulin, dan toleransi glukosa.50

 

Beras Merah dengan Diabetes Mellitus

Beras merah mengandung mineral mag- nesium yang tinggi. Magnesium merupakan mineral yang berperan sebagai kofaktor lebih dari 300 enzim, termasuk enzim yang berperan dalam penyediaan glukosa tubuh dan sekresi insulin. Respon glukosa postprandial pasien

diabetes melitus tipe 2 dengan konsumsi be- ras merah lebih rendah 23%  dari pada subjek yang mengkonsumsi beras puti.51  Pada subjek sehat glikemik load dan indeks glikemik lebih rendah 19,8% dan 12,1% (p < 0,05) pada sub- jek yang mengkonsumsi beras merah dari pada subjek yang mengkonsumsi beras putih di mana berturut-turut 35,2% dan 35,6%. Effek ini dapat disebabkan oleh asam fitat, polifenol, serat, dan minyak esensial yang terdapat pada beras merah dibandingkan beras putih. Beras merah memberikan efek menguntungkan pada pasien diabetes melitus tipe 2 dan hiperglike- mia.

Jumlah indeks glikemik pada beras dipengaruhi oleh beberapa faktor. Jenis vari- etas beras yang bergantung pada proses pen- golahan, waktu pemasakan, kandungan amy- losa. Indeks glikemik beras putih lebih tinggi dibandingkan serealia yang lain. Sebagai contoh indeks glikemik  beras putih 55, beras merah 41, serealia utuh seperti barley 25.52 Be- ras putih merupakan kontributor utama pada makanan yang mempengaruhi beban glikemik pada masyarakat dengan makanan utama beras putih.53,54  GI beras putih lebih tinggi daripada beras merah disebabkan terjadinya perubahan fisik dan botani pada beras putih selama proses penggilingan. Selama penggilingan beras pu- tih hampir seluruh lapisan bran dan beberapa bagian germ terbuang. Secara langsung juga berdampak pada kehilangan sejumlah   kan- dungan serat, vitamin, magnesium, dan min- eral lainnya, lignin, phytoestrogen, dan asam phytat. Semua zat gizi dan phytochemiacal ini kemungkinan memiliki efek perlindungan ter- hadap kejadian diabetes.54

Diet dengan indeks glikemik tinggi di- hubungkan dengan peningkatan risiko diabe- tes tipe 2.54-57 Hubungan signifikan antara kon- sumsi beras putih dengan risiko diabetes telah dibuktikan melalui studi kohort pada populasi perempuan China dan Jepang.53,54   Meskipun asosiasi ini tidak berhubungan pada pria Je- pang.53  Hasil penelitian Belobrajdic dan An- thony (2013)20   menyatakan bahwa makanan serealia utuh dapat menurunkan risiko diabe- tes mellitus tipe 2 sebesar 20-30%, 2-3 porsi per hari konsumsi serealia utuh dapat menu-

runkan risiko diabetes dibandingkan konsumsi

1 porsi per hari. Studi klinik menunjukkan mengganti beras putih dengan serealia (66,6% beras merah dan barley) secara signifikan menurunkan glukosa post prandial dan level insulin.58

Beras merah memiliki efek protektif terhadap kejadian DM tipe 2 pada penduduk Amerika.  Hasil  studi  meta  analisis  Sun  et al. (2010)59 dari Departements of Nutrition Brigham and Women’s Hospital and Haevard Medical Scholl yang merangkum 3 penelitian besar yakni The Health Professional Follow- up Study (1986-2006) dengan jumlah sampel penelitian 39.765, The Nurse’s Health Study I (1984-2006) dan II (1991-2005) dengan jumlah sampel penelitian 88,343.  Hasil studi menun- jukkan bahwa konsumsi beras putih ≥ 5 porsi per minggu dibandingkan < 1 porsi per bulan diperoleh nilai RR 1,17 (95% CI = 1,02-1,36), sebaliknya konsumsi beras merah ≥ 2 porsi per hari dibandingkan < 1 bulan per minggu menunjukkan RR 0,89 (95% Cl = 0,81-0,97). Konsumsi 50 gram per hari beras merah akan menurunkan risiko DM sebesar 16%.

Populasi Asia dengan makanan pokok berupa nasi putih banyak dikaitkan dengan peningkatan risiko diabetes atau sindrom me- tabolik. Studi prospektif tentang konsumsi nasi putih dihubungkan dengan perkembangan DM tipe 2 pada masyarakat Cina di Sanghai, kon- sumsi beras putih 300 gr per hari dihubungkan dengan peningkatan risiko DM tipe 2 sebesar

78%.54  Di India dan Jepang dengan pola kon- sumsi tinggi beras putih dihubungkan dengan risiko penyakit merabolik dalam sebuah studi cross sectional study.60,61

Subtitusi beras putih dengan beras merah selama 16 minggu tidak memiliki efek penga- ruh terhadap faktor risiko gangguan merabo- lik pada masyarakat Cina kategori dewasa dengan diabetes atau dengan risiko diabetes. Hasil penelitian Zang et al. (2011)45  dari Chi- nese Academy of Science and Graduate School terhadap 202 subjek penelitian dengan penya- kit diabetes atau risiko diabetes menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan marker serum plas- ma, kecuali kolesterol LDL mengalami penu- runan pada kelompok intervensi beras merah

(p  =  0,02).  Terjadi  peningkatan  kolesterol

HDL pada kelompok intervensi beras merah

14,9%, sedangkan pada kelompok intervensi beras putih 6,9% (p = 0,07). Terjadi penurunan tekanan darah diastolik pada kelompok beras merah dibandingkan beras putih (p = 0,02).

Efek beras putih, beras merah, dan perkecambahan  parsial  beras  merah  terha- dap status antioksidan DM tipe 2 pada tikus. Penelitian yang dilakukan oleh Imam et al. (2012)62  pada tikus yang telah diberikan diet tinggi lemak dan injeksi streptomycin kemu- dian dibagi dalam tiga kelompok yakni kelom- pok beras putih (WR), kelompok beras merah (BR) dan kelompok kecambah parsial beras merah (GBR) lalu diamati enzim katalase dan gen supeoksida dismutase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok BR dan GBR terjadi peningkatan aktivitas scavenging serta mencegah penurunan antioksidan total.

 

Studi – Studi Tekait Beras Merah

 

Sebuah studi mengenai sifat fisikokimia beras merah. Studi yang dilakukan oleh Umar at al. (2011)18  dari Universiti Putra Malaysia menemukan bahwa kandungan amylosa pada beras putih 25,77%, beras merah 23,83% dan beras merah germinated 21,78%. Kandungan amylosa pada beras merah germinated lebih rendah dibandingkan beras merah maupun beras putih. Juliano (1992)63 membuat klasifi- kasi beras berdasarkan kandungan amilosanya yakni kandungan amilosa rendah (< 20%), menengah (21-25%) dan tinggi (25- 33% ami- losa). Jadi, berdasarkan kandungan amilosa pada padi Malaysia (21,78-25,77%), sehingga dikategorikan pati dengan kandungan amilosa menengah.18

Beras merah mempengaruhi metabo- lisme lemak dan ferrokinetics. Hasil studi dari Niigata University of Pharmacy and Applied Life Science oleh Ueno dan Kyoko (2011)64 menunjukkan bahwa intervensi beras merah 2 kali sehari selama sebulan dapatk menurunkan kolesterol total. Intervensi beras merah 1 kali sehari selama 3 bulan secara signifikan dapat menurunkan kolesterol LDL dan kolesterol to- tal, serta meningkatkan kolesterol HDL, serum

besi dan ferritin. Intervensi beras merah 2 kali sehari selama 1 bulan kemudian dilanjutkan dengan konsumsi nasi putih secara signifikan menurunkan kolesterol total dan LDL, namun kolesterol HDL, serum besi mengalami penu- runan. Hasil penelitian ini menemukan 51,9% subjek tidak  mengalami perubahan buang air,

29,6% mengalami  penurunan  kejadian  kon- stipasi dan 18,5% subjek penelitian memiliki kecenderungan untuk mengalami diare. Hasil penelitian Hayaka et al (2009)65  menyimpul- kan bahwa secara signifikan terjadi penurunan kolesterol LDL dan peningkatan kolesterol HDL setelah intervensi beras merah selama 3 bulan pada pasien DM tipe 2 yang memiliki rerata umur 66,3 tahun, namun hasil peneli- tian ini menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara asupan beras merah dengan konsentrasi trigliserida plasma.

Studi daya terima beras merah pada ma- syarakat. Sebuah studi yang dilakukan oleh University of Minnesota terhadap 20 subjek penelitian menemukan bahwa konsumsi be- ras merah dapat memberikan rasa kenyang yang lebih lama, tingkat kepuasan konsumsi makanan lebih tinggi, dan kecendurungan un- tuk selalu makan lebih rendah dibandingkan konsumsi beras putih.11

Daya terima beras merah pada masyara- kat Cina. Studi Zhang et al. (2010)66  pada 32 subjek penelitian yakni orang Cina dewasa. Hasil penelitian menunjukkan dari 32 subjek penelitian hanya 8 orang yang memiliki riwayat konsumsi beras merah sebelum penelitian. Se- belum  partisipan  ikut  penelitian    mayoritas mereka mengkonsumsi beras putih. Setelah subjek mencoba rasa beras merah dan bela- jar tentang kandungan zat gizi beras merah, mayoritas subjek menunjukkan peningkatan kesadaran untuk mengkonsumsi beras merah. Berdasarkan uji organoleptik meliputi tekstur dan rasa menunjukkan nilai penerimaan yang tinggi.

 

KESIMPULAN

Beras merupakan makanan pokok di Negara Asia termasuk di Indonesia. Tingginya konsumsi  beras  putih  banyak  dihubungkan dengan peningkatan risiko diabetes mellitus, sehingga upaya alternatif penggunaan beras merah sebagai pengganti beras putih menjadi makanan pokok merupakan hal yang patut diperhitungkan. Beras merah merupakan beras yang diproduksi secara tradisional tampa menggunakan       mesin  penggilingan.     Beras merah mengandung sejumlah zat gizi dan zat non gizi yang lebih tinggi dibandingkan beras putih, karena proses penggilingan pada beras putih menyebabkan berkurangnya kandungan zat gizi dan zat non gizi tersebut. Beras merah berpotensi dalam mencegah maupun pengobatan  diabetes  mellitus  karena kandungan zat gizi dan phytokimia di dalamnya. Beras merah mengandung mineral magnesium yang tinggi berperan sebagai kofaktor lebih dari 300 enzim, termasuk enzim yang berperan dalam penyediaan glukosa tubuh dan sekresi insulin. Beras merah memiliki indeks glikemik yang lebih rendah dibandingkan beras putih sehing- ga menurunkan respon glukosa postprandial pasien DM tipe 2.

Disarankan perlu diadakan soasialisasi kepada masyarakat terkait manfaat beras merah terkait manfaat, cara bercocok tanam, cara pengolahan beras merah, sehingga diharap- kan penerimaan beras merah sebagai peng- ganti beras putih berupa makanan pokok dapat diterima oleh masyarakat umum. Dibutuhkan penelitian (studi epidemiology, studi klinik, studi invitro) di Indonesi tentang beras merah sebagai pemanfaatan pangan fungisional guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Sumber : Nuryani

Magister Program Studi Kesehatan Masyarakat, Konsentrasi Gizi Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin, Makassar

e-mail: [email protected]

 

Bagikan informasi tentang Manfaat Beras Merah Untuk Diabetes Melitus kepada teman atau kerabat Anda.

Manfaat Beras Merah Untuk Diabetes Melitus | NaturalToko.com

Belum ada komentar untuk Manfaat Beras Merah Untuk Diabetes Melitus

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Mungkin Anda tertarik produk berikut ini:
Popular!
OFF 42%
Rp 50.000 Rp 86.000
Ready Stock / erhsali
Popular!
OFF 29%
Rp 60.000 Rp 85.000
Ready Stock / SKIDS
SIDEBAR